Trump: Kim Jong-un Akan Berakhir Seperti Muammar Khadafi, Jika Tak Mau Denuklirisasi

Koran Online

Daily News / Koran Online 23 Views comments

Liputan6.com, Washington DC - Presiden Donald Trump mendesak pemimpin Korea Utara Kim Jong-un untuk segera membuat kesepakatan dengan AS tentang perlucutan senjata nuklir.

Jika tidak, Trump mengancam bahwa nasib Kim Jong-un dan Korea Utara akan berakhir seperti mendiang Muammar Khadafi dan Libya. Demikian seperti dikutip dari The Guardian (18/5/2018).

Ancaman itu disampaikan Trump di Gedung Putih Kamis, 17 Mei kemarin, ketika pers memintanya berkomentar seputar usulan yang disampaikan oleh Penasihat Kepresidenan bidang Keamanan Nasional, John Bolton.

Bolton sebelumnya mengatakan bahwa 'model Libya' akan menjadi contoh bagi AS untuk bernegosiasi dengan Korea Utara pada 12 Juni di Singapura nanti.

Model Libya yang dimaksud Bolton merujuk pada perjanjian yang dibuat antara AS -- Khadafi pada Desember 2003, di mana diktator Libya itu diwajibkan untuk melucuti program senjata nuklirnya dan menyerahkan teknologi pengayaan uranium (enriched uranium) -- yang merupakan bahan baku senjata nuklir -- kepada AS.

Akan tetapi, Trump tak menyadari tentang perjanjian itu dan menafsirkan 'mannequin Libya' yang disebut oleh John Bolton dengan interpretasi yang berbeda. Dia justru menginterpretasikan 'model Libya' yang disebut Bolton sebagai intervensi NATO terhadap rezim Khadafi pada tahun 2011.

Pada tahun itu, NATO mendukung dan membantu kelompok oposisi yang berusaha untuk menggulingkan Khadafi. Pada akhirnya, Khadafi berhasil digulingkan dan tewas di tangan pemberontak di Tripoli.

"Jika Anda lihat mannequin yang diterapkan pada Khadafi, mannequin itu adalah penumpasan complete (terhadap rezim dan Khadafi). Kami datang ke sana dan mengalahkannya," kata Donald Trump menginterpretasikan 'mannequin Libya' yang diutarakan John Bolton.

"Sekarang, model seperti itu akan diterapkan (terhadap Kim Jong-un dan Korea Utara) jika kita tidak mencapai kesepakatan (soal denuklirisasi dan perlucutan senjata). Tapi jika kita membuat kesepakatan itu, Kim Jong-un akan menjadi orang yang paling bahagia," tambahnya.

"(Jika kesepakatan itu tercapai) Kim Jong-un akan tetap di sana. Ia tetap akan memerintah negaranya. Dan negaranya akan menjadi kaya," lanjut Trump.

Penasihat Kepresidenan AS bidang Keamanan Nasional, John Bolton. Foto diambil saat Bolton menjabat sebagai dubes AS untuk PBB pada 2005 (Dennis Cook/Associated Press)

Ketika ditanya apakah komentar itu mengindikasikan bahwa Trump tak sepakat dengan penasihat keamanan nasionalnya, presiden ke-45 AS itu mengatakan, "Saya pikir, ketika Bolton membuat pernyataan itu, dia berbicara tentang kemungkinan masalah yang mungkin kita hadapi (jelang KTT Korea Utara - AS). Karena, kita tidak bisa membiarkan negara itu memiliki nuklir. Kami tak bisa membiarkannya."

Menurut analis, komentar yang dibuat Trump tak hanya menginterpretasikan 'model Libya' secara keliru, tetapi juga memiliki nada ancaman terhadap Kim Jong-un. Ancaman itu justru akan berpotensi semakin memperkeruh hubungan kedua negara jelang KTT Korea Utara - AS pada 12 Juni nanti.

"Sungguh waktu yang tak tepat bagi Trump untuk mengutarakan ancaman seperti itu, tiga pekan jelang KTT," lanjut Joel Wit, analis senior US-Korea Institute Johns Hopkins College yang juga mantan negosiator AS.

Saat ini, KTT Korea Utara - AS pun tengah terancam batal usai Pyongyang mengancam untuk menghentikan pertemuan itu. Korea Utara mengutarakan bahwa Washington terus melakukan provokasi dengan 'memaksakan kehendak untuk denuklirisasi secara sepihak' serta 'terus melanjutkan latihan militer bersama Korea Selatan di semenanjung'.

Pemerintah Amerika Serikat pun sejak beberapa pekan terakhir bersikeras bahwa tolak ukur keberhasilan KTT Korea Utara - AS nanti adalah persetujuan Pyongyang untuk melakukan denuklirisasi dan perlucutan senjata secara complete.

Namun, meskipun Pyongyang mengancam untuk membatalkan KTT, Donald Trump tetap optimis bahwa pertemuan itu akan tetap berlangsung.

Di sisi lain, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri AS, Heather Nauert, mengatakan, "Kami terus mendorong ke depan dan merencanakan persiapan kami. Mereka melanjutkan negosiasi awal pada saat ini untuk pertemuan antara presiden dan Kim Jong-un pada bulan Juni."

Saksikan juga video pilihan berikut ini:

Donald Trump menyampaikan bahwa saat ini Menteri Luar Negeri AS sedang menyusun pertemuan antara dirinya dengan Kim Jong-un.

Comments