Tol Trans Jawa Dianggap Mahal, Jasamarga Diminta Lakukan Evaluasi

Nasional

Berita / Nasional 20 Views comments

JawaPos.com - Pemberlakuan tarif tol Trans Jawa menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Banyak yang menganggap tarif sebesar Rp 1.000 per kilometer cukup mahal. Kondisi ini pun turut berdampak pada banyaknya masyarakat yang kemudian berpaling menggunakan jalan bebas hambatan tersebut. Menanggapi hal itu, Komisi VI DPR RI pun angkat bicara. 

"Sebenarnya tarif normalnya tadi dikatakan Rp 1.300 rupiah per kilometernya, tetapi mereka (PT Jasamarga) menerapkan Rp 1.000 per kilometernya dan itu masih dirasa mahal oleh masyarakat," ungkap anggota Komisi VI DPR RI, Martri Agoeng disela melakukan kunjungan kerja di relaxation space KM 519 A, Sragen, Kamis (14/1).

Menurutnya, dari sisi bisnis tarif tersebut tidaklah mahal. Terlebih tarif tersebut juga sudah di bawah dari harga yang seharusnya diterapkan yakni Rp 1.300 per kilometernya. Akan tetapi, selama ini masyarakat sering membandingkannya dengan jalan tol yang ada di kota besar.

Padahal, jalan tol tersebut sudah dibangun lama sehingga harganya juga sudah murah. "Masyarakat penikmat jalan tol membandingkannya dengan jalan tol yang sudah lama, dan itu sudah murah. Seperti tol Jakarta-Bogor dengan jarak mencapai 40 kilometer dengan tarif yang hanya Rp 6.500 rupiah saja. Jadi tarif Rp 1.000 per kilometer itu dirasa mahal banget," ungkapnya. 

Menurut ketua rombongan kunjungan kerja itu, selama ini masyarakat sudah memiliki anggapan tarif tol Trans Jawa sangat mahal. Makanya, banyak yang kemudian enggan masuk. Maka dari itu, politikus dari fraksi PKS itu meminta kepada pihak pengelola dalam hal ini PT Jasamarga agar melakukan sosialisasi secara psikologis kepada masyarakat. Sehingga, masyarakat bisa menghapus anggapan bahwa tarif tol tidaklah mahal. 

"Ini yang harus dirasionalkan oleh penyelenggara kepada publik agar tidak muncul kesan bahwa (tarif) ini mahal. Evaluasi juga pasti, apakah nanti sampai harus mengubah harga atau tidak lihat variabelnya," pungkasnya.

Editor           : Sari Hardiyanto
Reporter      : Ari Purnomo

Comments