Survei: Efek Pemilu Serentak 2019 Komposisi Parpol Menengah Kompetitif

Nasional

Berita / Nasional 47 Views comments

JawaPos.com - Pemilu Serentak 2019 tidak hanya berimbas pada posisi partai politik (parpol) papan atas. Parpol yang mendapatkan suara dengan perolehan menengah pun semakin alot.

Direktur Eksekutif INDOMETER Leonard Sb menuturkan, pemilihan presiden (pilpres) dan pemilihan legislatif (pileg) pada Pemilu 2019 tidak hanya menimbulkan coattail results terhadap papan atas. Formasi parpol di degree menengah tidak kalah sengit dan kompetitif. Pada papan atas dinikmati oleh dua parpol, yakni PDIP dan Partai Gerindra.

Suara PDIP dan Gerindra memang mengalami peningkatan signifikan dibandingkan hasil Pileg 2014,” ungkap Leonard Sb dalam keterangan resminya, pada Minggu (17/three).

Temuan survei Indometer menunjukkan, elektabilitas PDIP mencapai 23,5 persen, sedangkan Gerindra 13,four persen. Pada Pileg 2014, suara PDIP tidak mencapai 20 persen, sementara posisi Gerindra masih di bawah Golkar.

Menurut Leonard, faktor presidential threshold yang mengunci jumlah pasangan calon presiden hanya dua pasang memberi keuntungan bagi kedua partai politik. PDIP diperkirakan akan menjadi partai pemenang pemilu, disusul Gerindra sebagai runner up.

“Sejak pemilu pertama pasca-reformasi Golkar selalu menempati peringkat pertama atau kedua. Baru kali ini Golkar tergeser ke posisi ketiga, dengan elektabilitas 10,2 persen,” jelas Leonard.

Hasil pemetaan Indometer itu berdasar pada survei pada 1-7 Maret 2019. Survei tersebut mengambil jumlah responden 1.280 orang. Semuanya tersebar di seluruh provinsi di Indonesia.

Pengambilan sampel dilakukan secara acak bertingkat (multistage random sampling), dengan margin of error lebih kurang 2,98 persen. Tingkat kepercayaan 95 persen. Pendalaman kajian dilakukan melalui focus group dialogue dengan mengundang pakar terkait.

Lebih lanjut Leonard menyebut, untuk posisi papan tengah lebih kompetitif. Namun didominasi oleh partai-partai Islam. Di antaranya PPP (three,9 persen), PAN (three,7 persen), dan PKS (three,four persen). Lalu ada partai Nasdem yang memimpin elektabilitas papan tengah sebesar four,1 persen. Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dan Perindo berhasil menembus papan tengah. PSI meraih elektabilitas three,6 persen, sedangkan Perindo menjadi juru kunci dengan elektabilitas 2,eight persen.

Sisanya adalah partai-partai yang diprediksi tidak bakal lolos ke Senayan, yaitu Hanura (1,1 persen), PBB (zero,9 persen), PKPI (zero,eight persen), Berkarya (zero,5 persen), dan Garuda (zero,2 persen).

“Hanura menjadi satu-satunya partai lama yang bakal terpental tidak mendapat kursi, demikian pula dengan PBB dan PKPI yang sejak 2009 tidak meraih kursi lagi di Senayan,” kata Leonard.

Sedangkan Berkarya dan Garuda menjadi partai baru yang bakal tersisih oleh ambang batas parlemen (parliamentary threshold). “Temuan menarik adalah capaian PSI sebagai partai baru yang berhasil menyejajarkan diri dengan partai-partai papan tengah,” tutur Leonard.

Jika melihat hasil survei sejumlah lembaga sejak dimulainya musim kampanye pada September 2018 lalu, elektabilitas PSI cenderung mengalami peningkatan. Dari kisaran nol koma selama tiga bulan pertama, bergerak merayap ke 1,5 hingga 1,7 persen pada pergantian tahun. Dalam dua bulan, Februari-Maret 2019, elektabilitas PSI melonjak dari 2,eight persen menjadi three,6 persen.

Lebih jauh Leonard berpendapat, besar kemungkinan terjadi migrasi pemilih dari partai nasionalis utama ke parpol nasional menengah.

Editor           : Ilham Safutra

Comments