Studi: Ribuan Wanita Myanmar Diperdagangkan dan Dipaksa Jadi Istri di China

Nasional

Berita / Nasional 59 Views comments

Liputan6.com, Napyidaw - Sebuah hasil penyelidikan oleh gabungan kelompok pemerhati HAM, mengungkap bahwa ribuan wanita dan anak perempuan telah diperdagangkan dari Myanmar, untuk kemudian dipaksa menikah di China.

Laporan yang terbit pada Jumat 7 Desember itu juga menyebut bahwa China memiliki sekitar 33 juta lebih banyak penduduk pria, dibandingkan wanita, akibat dari kebijakan satu anak selama beberapa dekade.

Untuk mengatasi kesenjangan itu, sebagaimana dikutip dari Asia One pada Sabtu (eight/12/2018), puluhan ribu wanita miskin dari Kamboja, Laos, Myanmar, dan Vietnam didatangkan sebagai pengantin setiap tahun. Sebagian pergi dengan sukarela, sementara yang lain tertipu atau diperdagangkan.

Hasil laporan yang digagas oleh Johns Hopkins Bloomberg Faculty of Public Well being itu memperkirakan sekitar 7.500 wanita dari negara bagian Kachin --wilayah di utara Myanmar yang kerap dilanda perang sipil-- dan negara bagian Shan utara, telah menjadi korban pernikahan paksa di China.

Berdasarkan wawancara dengan sejumlah korban yang melarikan diri dan kembali ke Myanmar, penelitian ini menemukan bahwa mayoritas dari mereka yang diperdagangkan juga dipaksa untuk memberikan anak.

Banyak dari wanita ini meninggalkan Myanmar karena "konflik, ketidaksetaraan, dan kemiskinan". kata penulis laporan, W. Courtland Robinson.

Selain itu, ketidakseimbangan populasi pria dan wanita di China, terutama di daerah pedesaan, berbanding lurus dengan meningkatnya permintaan calon istri.

"Karena ketidakstabilan politik, konflik dan perampasan tanah ... keamanan bagi wanita merupakan tantangan besar," katan Moon Nay Li dari Asosiasi Wanita Kachin Thailand

Simak video pilihan berikut; 

Pengungsi Rohingya memberikan tanggapan terhadap investigasi yang telah dilakukan PBB terhadap kekerasan di Myanmar.

Comments