Ogah Berbagi Informasi, India Sebut WhatsApp Jahat

Nasional

Berita / Nasional 17 Views comments

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah India dilaporkan mulai melakukan penataan terhadap platform media sosial termasuk chatting yang hadir di negaranya. Salah satu yang menjadi perhatian adalah WhatsApp milik Fb.

Aplikasi chatting itu menjadi perhatian utama karena kerap digunakan sebagai sarana untuk menyebarkan ujaraan kebencian hingga pornografi.

Jadi, pemerintah meminta WhatsApp untuk lebih terbuka, terutama kemungkinan otoritas memantau diskusi on-line yang ada di platform tersebut.

"Selama enam bulan, kami meminta mereka untuk lebih terbuka, tapi apa yang sudah mereka lakukan? Saat ini, pedofil dapat beraksi dengan aman di WhatsApp. Ini sangat jahat," tutur salah satu petinggi di Kementerian Teknologi Informasi India, Gopalakrishnan S. seperti dikutip dari The Indian Categorical, Kamis (14/2/2019).

Sementara juru bicara WhatsApp, Carl Woog, menyebut permintaan pemerintah India tersebut melanggar aturan privasi perusahaan. 

Jika permintaan itu dipenuhi, berarti WhatsApp harus membuka enkripsi end-to-end pengguna yang ada saat ini.

"Permintaan itu tidak mungkin mengingat enkripsi end-to-end mengharuskan kami merancang ulang WhatsApp, sehingga tidak lagi bersifat pribadi," tuturnya.

Kendati demikian, Woog menyebut WhatsApp sejak awal tidak mengizinkan penyebaran konten yang berbau pelecehan seksual anak.

Menurut Woog, WhatsApp sudah membatasi penyebaran konten pelecehan seksual anak dengan menutup 250 ribu akun per bulan yang diketahui melakukan penyebaran konten semacam itu.

Karenanya, hingga sekarang belum ada titik temu antara pemerintah India dan WhatsApp terkait persoalan ini. 

Bagi WhatsApp sendiri, aturan ini merupakan dilema bagi perusahaan tersebut.

Alasannya, bukan tidak mungkin pemerintah India akan mengambil langkah tegas dengan menutup layanan WhatsApp.

Padahal, India merupakan salah satu pasar terbesar aplikasi chatting itu. 

Comments