Menakar Peluang Kerja Sama Indonesia Pasca Pilpres AS 2020

  • Whatsapp

Dailymail.co.id, Jakarta – Wakil Menteri BUMN, Budi Gunadi Sadikin mengatakan Indonesia memiliki pola kerja sama dengan masing-masing partai politik yang memenangkan Pemilihan Presiden Amerika Serikat.

"Indonesia sudah punya masing-masing pola berbeda dalam hubungan luar negerinya," kata Budi di Jakarta, Selasa (24/11).

Sebagaimana diketahui, Pilpres Amerika 2020 dimenangkan pasangan Joe Biden dan Kamala Harris. Penantang petahana ini berasal dari Partai Demokrat.

Budi menilai kepemimpinan Partai Demokrat lebih condong bersifat kerakyatan. Dari sisi perbankan, suasana politik ini cocok dengan Bank BRI sebagai bank pemerintah.

Sehingga banyak kegiatan yang bisa dilakukan kerja sama antara Bank BRI dan Pemerintah Amerika Serikat.

"Banyak program kerakyatan dikerjasamakan dengan mereka, by filosofi. Ingatkan yang namanya medicare, zaman partai demokrat, itu asuransi kesehatan untuk seluruh rakyat Amerika," tutur Budi.

Amerika Serikat dibawah kepemimpinan Partai Demokrat akan mempermudah kerja sama yang memiliki fokus kepada kepentingan masyarakat umum. Banyak yang alternatif dan inisiatif yang bisa dikonsolidasikan sepanjang sesuai dengan agenda napas Partai Demokrat.

"Kerja sama bank di sektor kesehatan asalkan fokus rakyat besar terbuka. Banyak alternatif lain inisiatif lain asalkan nature pemerintah demokrat sifatnya lebih kerakyatan," kata dia.

Sehingga program-program yang bermanfaat untuk masyarakat di Indonesia selama lebih kerakyatan di berbagai bidang bisa dikerjasamakan dengan Pemerintah Amerika Serikat dibawah kepemimpinan Joe Biden.

Reporter: Anisyah Al Faqir

Sumber: Merdeka.com

Kekalahan Donald Trump di Pilpres AS Ikut Andil Turunkan Suku Bunga Acuan BI

Menakar Peluang Kerja Sama Indonesia Pasca Pilpres AS 2020
Presiden AS Donald Trump (AP PHOTO)

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memaparkan alasan diturunkannya suku bunga acuan atau BI 7 Days Reverse Repo Rate (7DRRR) sebesar 25 basis poin menjadi 3,75 persen pada November 2020.

Perry mengatakan, keputusan ini diambil dengan mempertimbangkan berbagai indikator. Seperti pertumbuhan ekonomi kuartal III di sejumlah negara mulai membaik, volume perdagangan dan harga komoditas yang menurun, termasuk kemenangan Joe Biden dalam pemilihan presiden Amerika Serikat (AS) atas Donald Trump.

"Kami memandang perekonomian global dan kondisi pasar keuangan global membaik. Tentu ini merespons perkembangan-perkembangan positif antara lain hasil pemilu di Amerika, maupun kemajuan dalam penemuan vaksin, maupun juga berbagai kerjasama perdagangan dan investasi secara regional, termasu RCEP," jelasnya, Kamis (19/11/2020).

Indikator lainnya, Perry meneruskan, keputusan RDG BI juga mempertimbangkan kondisi ekonomi nasional yang ikut membaik. Itu tercermin dari kontraksi pertumbuhan ekonomi pada kuartal III 2020 yang tidak sedalam triwulan sebelumnya.

"Permintaan domestik juga mulai membaik secara bertahap. Kinerja ekspor juga membaik, terutama didorong permintaan dari Amerika dan China," sambungnya.

Ke depan, Bank Indonesia disebutnya akan terus memantau pergerakan ekonomi nasional dan global, yang diproyeksikan membaik pada kuartal IV 2020 dan 2021 mendatang.

"Tentu saja sebagaimana kami sampaikan, kami akan pantau perkembangan ekonomi global dan domestik, khususnya inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan stabilitas nilai tukar rupiah. Dan tentu saja kami lihat bulan ke bulan untuk menentukan respon kebijakan," ujarnya.

"Tapi perlu kami tegaskan bahwa stance kebijakan moneter dan pelonggaran Bank Indonesia tidak hanya dicerminkan dari suku bunga acuan yang 3,75 persen. Tetapi juga perlu dilihat juga ekspansi likuiditas yang sudah sangat besar kami lakukan," dia menegaskan.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Pos terkait

Tinggalkan Balasan