Viral Buku Bacaan Anies Baswedan, Wagub DKI Minta Masyarakat Sikapi dengan Bijak

  • Whatsapp

Dailymail.co.id, Jakarta – Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria meminta agar masyarakat dapat menyikapi postingan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan soal membaca buku How Democracies Die secara bijak.

Sebab, kata dia, sejumlah kepala daerah ataupun pimpinan di Indonesia memiliki hobi untuk membaca buku dengan judul yang berbeda-beda.

"Mulai dari judul soal agama sampai seni budaya. Jadi saya kira kita sikapi secara bijak, enggak usah berlebihan," kata Riza di Balaikota, Jakarta Pusat, Selasa (24/11/2020).

Karena hal itu, dia mengharapkan masyarakat tidak perlu memberikan berbagai tafsiran terhadap postingan tersebut.

"Saya kira Pak Gubernur dan semua pemimpin membaca buku itu biasa. Sesuatu yang baik dengan berbagai judul. Jadi enggak usah ditafsirkan berlebihan," jelas Riza.

Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengisi hari Minggu nya dengan membaca buku di rumah. Hal tersebut berdasarkan unggahannya di akun media sosial Instagramnya, @aniesbaswedan pada Minggu, 22 Novembr 2020.

Karya Penulis Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt

Viral Buku Bacaan Anies Baswedan, Wagub DKI Minta Masyarakat Sikapi dengan Bijak
Pejalan kaki melintasi mural bertemakan Imbauan Protokol Kesehatan Covid-19 di kawasan Bukit Duri, Jakarta, Minggu (25/10/2020). Gubernur DKI Anies Baswedan kembali memperpanjang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) masa transisi hingga 8 November 2020. (merdeka.com/Iqbal Nugroho)

Dalam unggahan tersebut Anies mengenakan kemeja putih pendek dan sarung. Dia tampak membaca sebuah buku "How Democracies Die" dengan latar rak buku dan sejumlah foto keluarganya.

"Selamat pagi semua. Selamat menikmati Minggu pagi," kata Anies dalam unggahan foto tersebut.

Buku How Democracies Die yang dibaca Anies Baswedan merupakan karya dari Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt. Buku tersebut juga telah diterjemahkan dengan judul Bagaimana Demokrasi Mati.

Berdasarkan resensi buku tersebut diceritakan bahwa demokrasi bisa mati bukan karena kudeta militer saja, namun dapat melalui seorang pemimpin otoriter. Kedua penulis menceritakan kekuasaan rezim pemerintahan selama abad 20 dan 21.

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Pos terkait

Tinggalkan Balasan