Hindari! 6 Kesalahan yang Kerap Dilakukan saat WFH biar Produktif

  • Whatsapp

Dailymail.co.id, Jakarta Karena pandemi virus corona, masa bekerja dari rumah atau work from home (WFH) menjadi semakin tak terhindarkan bagi banyak perusahaan. Bagi sejumlah karyawan, pengalaman tersebut tidak hanya baru, tetapi juga menakutkan.

Dari segi pro pastinya WFH bisa membawa banyak fleksibilitas, keleluasaan, dan juga memangkas waktu perjalanan. Tapi jika dilihat dari sisi kontra? WFH membutuhkan latihan untuk kesadaran diri, disiplin dan tingkat fokus yang tinggi, seperti melansir laman CNBC, Rabu (25/11/2020).

Tom Poparonis adalah seorang entreprenuer yang sudah memulai sistem kerja jarak jauh dari tahun 2010, dimana saat itu dirinya masih membangun startup pertamanya.

10 tahun kemudian pun, dirinya telah mengumpulkan begitu banyak pelajaran dalam bekerja jarak jauh atau WFH.

Ini adalah 6 kesalahan yang kerap kali dilakukan saat melakukan work from home menurut Poparonis:

1. Bekerja dengan Pakaian Tidur

Dari pengalaman orang-orang produktif, mereka akan jarang terlihat bangun tidur langsung bekerja saat masih menggunakan pakaian tidur.

Sebaliknya, mereka bersiap-siap untuk hari itu dengan cara yang sama jika pergi ke kantor, misalnya dengan berpakai-pakaian rapi.

Meskipun di situasi dimana pekerja bisa menggunakan celana tidur tanpa dinilai oleh orang sekitar, tapi pakaian tidur atau piyama bukanlah pakaian profesional.

Pakaian tersebut juga dinilai tidak efektif dalam menempatkan pikiran anda pada "mode kerja". Menurut sebuah penelitian dari Northwestern University, apapun profesi karyawan tersebut, mereka akan bekerja lebih baik dan produktif saat mengenakan pakaian yang memiliki "makna simbolis".

Selain itu terlihat rapi, dan bersiap-siap dengan baik dapat menghindari situasi yang bisa membuat terburu-buru untuk menyiapkan kondisi untuk video meeting.

2. Bekerja dari Kasur atau Sofa

Memiliki ruang kerja adalah sesuatu yang sangat penting. Mungkin beberapa orang memang bisa bekerja di tempat sofa atau tempat tidur. Tapi masalahnya pasti akan banyak yang tidak bisa produktif saat bekerja di tempat tersebut.

Memang tidak akan ada satu tempat kerja yang bisa cocok dengan gaya bekerja setiap orang. Memang cukup sulit untuk menggantikan ruang kantor yang bisa menopang mindset produktif.

Tapi bisa saja seseorang membuat ruangan khusus di rumahnya yang jauh dari sofa atau kasur, jadi akan membatasi kesempatan untuk bersantai-santai.

Selain itu pencahayaan juga berpengaruh terhadap produktivitas seseorang. Sebuah penelitian menemukan cahaya yang mempunyai suhu warna lebih dingin, bisa membuat pekerja akan jauh lebih produktif.

Pindahkan ruang kerja ke tempat yang terdapat jendela, sehingga ada sinar alami masuk ke ruangan tersebut.

Tidak hanya mata akan terasa jauh lebih nyaman, tetapi terdapat penelitian yang mengatakan bahwa hal tersebut bisa mengurangi kemungkinan depresi.

<h2>3. Membatasi Komunikasi</h2> <figure><img src="https://cdn0-production-images-kly.akamaized.net/TKjgMDrpXGG4Zbe4inoNh5XqoKk=/673x379/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3301487/original/032262000_1605799220-WFH.jpg" t**le="Kerja dari Rumah atau WFH." alt="Kerja dari Rumah atau WFH. Unsplash/ Screenpost" /><figcaption>Kerja dari Rumah atau WFH. Unsplash/ Screenpost</figcaption></figure><p>Bahkan untuk hari-hari yang tidak terlalu sibuk, orang sukses yang bekerja dari rumah biasanya selalu berusaha untuk berkomunikasi secara berlebihan.</p> <p>Poparonis yang sudah mengelola sebuah tim dari rumah selama beberapa tahun, selalu memastikan semua orang ikut serta dalam sebuah diskusi tentang apa yang mereka kerjakan, status tugas, serta kekhawatiran dan masalah mereka masing-masing. Hal itu dilakukandirinya agar tidak karyawan atau anggota tim yang merasa dihiraukan.</p> <p>Memang tidak harus setiap saat harus terus menerus memeriksa dan membalas email. Setidaknya lakukan check-in rutin dengan manajer atau anggota tim melalui telepon ataupun email.</p> <p>Poparonis menyarankan bahwa untuk lebih berani keluar dari zona nyaman masing-masing agar bisa membicarakan tentang tujuan mingguan yang ada. Jangan lupa untuk meminta saran ataupun informasi.</p> <p><strong>4. Tidak Memperhatikan Kesehatan</strong></p> <p>Saat Anda tidak berada di kantor, biasanya aktivitas fisik yang ada berkurang. Seperti tidak ada rekan kerja untuk minum kopi bersama, dan tidak ada lorong panjang yang mengarah ke printer atau kamar mandi serta ruangan rapat.</p> <p>Poparonis bercerita bahwa begitu sering dirinya sering merasakan sakit punggung dan rasa kesemutan di kakinya karena sudah terlalu lama duduk selama 4 atau 5 jam non-stop.</p> <p>Bahkan tanpa menyadarinya, Poparonis biasanya akan kelupaan untuk makan karena tersesat dalam kesunyian pekerjaan yang ada.</p> <p>Menurut sebuah studi dari Annals of Internal Medicine, bahkan jika seseorang sering berolahraga, duduk dalam waktu yang lama dapat menjadi faktor risiko kematian dini.</p> <p>Tetapi walaupun begitu, ada kabar baiknya, bahwa bahwa orang yang duduk kurang dari 30 menit memiliki risiko kematian dini yang jauh lebih rendah.</p> <p>Poparonis menyarankan untuk menyempatkan setidaknya untuk berolahraga sebelum bekerja, atau jangan lupa jalan-jalan ringan atau santai, agar setidaknya ada aktifitas di tubuh masing-masing.</p>        <h2>5. Tidak Menyiapkan Batasan</h2> <figure><img src="https://cdn1-production-images-kly.akamaized.net/YXeY3-_f5ygeRxUUuDOKN51a4IQ=/673x379/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3080602/original/006100900_1584595993-photo-1520333789090-1afc82db536a.jpg" t**le="Hindari! 6 Kesalahan yang Kerap Dilakukan saat WFH biar Produktif" alt="Hindari! 6 Kesalahan yang Kerap Dilakukan saat WFH biar Produktif" /><figcaption>Cegah bosan dan rasa kesepian saat WFH dengan cara ini. (Foto: Unsplash)</figcaption></figure><p>Memang sangat mudah untuk terganggu jika sesorang bekerja dari rumah, karena mereka akan jauh lebih mudah berinteraksi dengan orang-orang diluar lingkungan kerja.</p> <p>Oleh karena itu, Poparonis menyarankan untuk setiap orang mempunyai struktur rencana atau jadwal sehari-harinya. Hal ini berguna untuk mencegah gangguan untuk alur kerja masing-masing.</p> <p>Cara termudah untuk melakukannya adalah dengan membuat daftar tugas untuk setiap hari. Hal ini harus dibuat dengan tugas-tugas yang spesifik, terukur dan dapat dicapai.</p> <p>Selain itu, menetapkan batasan juga sangat penting untuk dilakukan. Seperti misalnya komunikasikan dengan orang yang tinggal dengan anda tentang jadwal kerja di rumah.</p> <p>Selain itu bijaksanalah dengan apa yang dilakukan saat online. Jika seseorang mempunyai kecenderungan untuk memerika media sosial, mengunduh program pemblokiran internet mungkin bisa jadi solusinya.</p> <p><strong>6. Tidak Memanfaatkan Kesempatan dengan Baik</strong></p> <p>Pilihan untuk bisa bekerja dari rumah merupakan sebuah hak istimewa, khususnya di kondisi pandemi Covid-19 seperti ini. Beberapa profesi seperti tenaga medis, diharuskan muncul di tempat untuk pekerjaan mereka.</p> <p>Poparonis pun berbagi pengalaman bahwa dirinya pernah merasakan hal serupa dengan orang-orang yang merasa tidak cocok dengan gaya bekerja dari rumah ini. Tetapi dari begitu banyak pengalaman yang digunakannya sebagai alat untuk bertumbuh secara pribadi.</p> <p>- <strong>Kemampuan Komunikasi dirinya jauh lebih baik</strong>. Memiliki kehadiran yang kuat saat anda tidak ada di kantor, berarti menandakan seseorang mengembangkan suara yang jelas dan percaya diri. Terus menerus berbicara dengan kolega dan klien melalui komunikasi digital telah membantu Poparonis melakukanhal tersebut.</p> <p>- <strong>Jadi Ahli Teknologi</strong>. Bekerja jarak jauh bisa menghadirkan tantangan berbagai masalah teknologi. Mungkin anda bisa kesulitan untuk bisa tersambungdengan server. Atau layar komputer tidak bekerja dengan baik, bahkan mungkin berkas pekerjaan hilang. Karena terpaksa untuk mandiri untuk memperbaikihal-hal itu, Poparonis merasa kemampuan teknologiny setidaknya bertambah.</p> <p>- <strong>Meningkatkan Kesadaran Diri dan Kecerdasan Emosional</strong>. Isyarat non-verbal hampir tidak mungkin diketahui saat anda berkomunikasi secara digital.</p> <p>Tetapi setelah bertahun-tahun berlatih, Poparonis dapat dengan mudah menangkap nada dan mengetahui apakah seorang rekan kerja sedang stres, bersemangat atau depres dan kemudian menanggapi sesuai dengan itu.</p> <p><strong> Reporter: Yoga Senjaya Putra</strong></p>   <h2>Saksikan Video Ini</h2>

Pos terkait

Tinggalkan Balasan