Menulis Ekspresif: Cara Mudah Lepas Stres

Nasional

Berita / Nasional 65 Views comments

Liputan6.com, Jakarta “That is the journey of surviving by way of poetry”  –Rupi Kaur

Kalimat tersebut tertulis pada sampul belakang buku antologi puisi Milk and Honey karya Rupi Kaur. Sebuah buku yang menceritakan perjalanan seseorang melewati kekerasan seksual, menemukan cinta, patah hati dan pemulihan diri. Kalimat tersebut mengisyaratkan buku tersebut merupakan perjalanan penulisnya untuk menyembuhkan diri dari penderitaan yang ia alami, sebagai strategi untuk coping.

Apa itu Coping?

Manusia memiliki kemampuan untuk berusaha keluar dari masalah yang ia alami. Strategi coping merupakan serangkaian usaha yang dilakukan seseorang untuk mengendalikan, menoleransi, atau mengurangi situasi yang memicu stres. Terdapat dua jenis strategi coping.

Pertama, coping secara aktif dengan cara menyelesaikan masalah yang muncul. Kedua, coping yang terfokus pada pengurangan dampak emosional yang muncul akibat situasi pemicu stres tersebut.

Apa Itu Menulis Ekspresif?

Menulis ekspresif adalah kegiatan menuliskan semua pemikiran dan perasaan paling mendalam yang muncul setelah mengalami stres. Hal yang membedakan menulis ekspresif dengan tulisan lainnya adalah tidak adanya aturan untuk memperhatikan ejaan, tata bahasa, atau tanda baca. Dalam menulis ekspresif kita juga diminta untuk menggambarkan semua aspek yang hadir saat pemicu stres terjadi.

Jika melihat pada jenisnya, strategi coping yang dilakukan oleh Rupi Kaur lewat bukunya termasuk pada pengurangan dampak emosional yang dialami. Kegiatan menulis, terutama menulis ekspresif sebagai salah satu strategi coping bukanlah hal baru.

Hubungan antara menulis ekspresif dengan kesehatan pertama kali ditemukan oleh Dr. James Pennebaker pada akhir period 1980-an. Saat itu, Pennebaker menyadari bahwa orang-orang yang mengalami trauma masa lalu dan merahasiakan trauma tersebut akan cenderung lebih banyak mengalami masalah kesehatan.

Pennebaker kemudian berteori bahwa keputusan untuk merahasiakan pemikiran, emosi, dan perilaku yang sangat kuat dapat menjadi pemicu stres. Dalam jangka panjang, ketika individu mengalami stres kecil sekalipun, fungsi imun dan kesehatan fisiknya akan terpengaruhi pemicu stres yang terpendam tersebut. Bermula dari pemikiran itu akhirnya paradigma menulis ekspresif lahir.

Sampai saat ini menulis ekspresif dipercaya dapat meringankan berbagai gejala gangguan kesehatan, baik fisik maupun psychological. Beberapa contohnya adalah mengurangi gejala depresi, mengurangi gejala penyakit yang muncul setelah patah hati, dan membantu penyesuaian kembali setelah patah hati. Bahkan menulis ekspresif juga dapat membantu berbagai aspek hidup lainnya seperti menjaga kestabilan hubungan atau membantu mendapatkan pekerjaan baru.

Mengalihkan Perhatian

Menulis ekspresif dapat membantu individu untuk mengarahkan perhatian ke tempat yang seharusnya. Pemikiran yang terpecah dan tidak teratur saat mengalami stres dapat terorganisir secara lebih baik ketika menulis ekspresif. Individu juga akan terbantu untuk dapat fokus dalam memahami penyebab stres dan meregulasi emosi dengan lebih baik.

Membiasakan Diri dengan Reaksi Negatif yang Muncul

Selain mengalihkan perhatian, menulis ekspresif juga membantu seseorang untuk terbiasa dengan reaksi negatif yang muncul ketika mengalami pengalaman traumatis.  Ketika menulis ekspresif, seseorang diarahkan untuk menggambarkan suasana, pemeran, dan aktivitas pada saat situasi pemicu stres terjadi. Individu juga diminta untuk menggambarkan reaksi yang dirasakan saat situasi pemicu stres terjadi. Bagaimana sensasi fisik, emosi, dan pemikiran yang dirasakan semuanya diminta untuk dituliskan. Harapannya, semakin sering seseorang menuliskan hal-hal di atas, maka lama kelamaan ia akan terbiasa dengan reaksi-reaksi yang muncul saat menghadapi pemicu stres yang serupa.

Mengubah Sudut Pandang

Membantu melihat pemicu stres dari sudut pandang lain juga menjadi salah satu manfaat yang didapatkan dari menulis ekspresif. Dengan melihat pemicu stres dari sudut pandang lain, maka diharapkan individu akan dapat mengelola emosi dengan lebih baik ketika dihadapkan kembali pada situasi sejenis.

Comments