Membongkar Pabrik Miras Oplosan di Pekanbaru

Nasional

Berita / Nasional 21 Views comments

Untuk memproduksi puluhan ribu miras per bulan, para tersangka punya peran masing-masing. Ada sebagai peracik, pemesan botol serta perangkatnya, ada sebagai pengemas dan ada pula memasarkannya.

Setiap hari, dari rumah itu diproduksi 200 miras. Sasaran distribusinya adalah Kota Pekanbaru, Jambi, Kabupaten Pelalawan, Kota Dumai dan sebagian provinsi tetangga.

"Sumatera tengah pemasarannya. Omsetnya per bulan Rp 1 miliar, itu diluar harga miras asli. Misalnya yang asli Rp 80 ribu per botol, mereka jual Rp 25 ribu," terang Santo.

Cara kerjanya, terang Santo, seorang tersangka mengalirkan air dari keran ke selang lalu diarahkan ke beberapa drum. Selanjutnya dicampur dengan cairan alkohol, pewarna pakaian, serta cairan perasa sesuai dengan merek miras yang diinginkan.

"Setelah bercampur, lalu dimasukkan ke sebuah wadah untuk disalin ke botol. Berikutnya dikasih label di botol dan merek di botol," kata Santo.

Untuk penyedia botol dan tutupnya, Santo menyebut berasal dari Jakarta. Pihaknya kini tengah memburu penyedia bekerjasama dengan Polda Riau, termasuk mencari pemodal.

"Pemodalnya sudah dikantongi identitasnya, perkembangan akan diberitahukan nanti," ucap Santo.

Kepada petugas, para tersangka mengaku belajar otodidak. Mereka berada di Pekanbaru sudah tiga bulan dan masih ada hubungannya dengan pelaku residence business miras yang ditangkap tahun lalu.

"Atas perbuatannya, pelaku dijerat dengan Undang-Undang Perlindungan Konsumen dan Pangan," tegas Santo.

Pemuka masyarakat setempat, Zainal Abidin, menyebut rumah itu milik seorang perempuan yang tidak tinggal di sana. Para tersangka sempat melapor ke RT dan menyebut bekerja sebagai pedagang di Pasar Pusat Kota Pekanbaru.

"Ada KTP sewaktu melapor, ada yang dari Jawa Barat. Selama mengontrak memang rumah selalu sepi, seperti tak ada aktivitas di dalamnya," ucap Zainal.

Comments