Media Sosial, Senjata Sesungguhnya dalam Penembakan di Selandia Baru

Nasional

Berita / Nasional 4 Views comments

Penyunting jurnal Essential Research on Terrorism Lee Jarvis mengatakan, web telah memberikan orang dengan kepercayaan minoritas untuk saling terhubung. Mereka bisa bertemu dengan orang-orang yang memiliki pandangan sama bagaimana cara membuat situasi regular di dunia.

"Ada kekhawatiran bahwa jika Anda memiliki sejumlah kecil orang dengan ide yang sama, ide tersebut terasa lebih sah dan tersebar luas daripada yang sebenarnya," kata Jarvis.

Berbagai dokumen yang tersebar juga telah membuktikannya. Ada banyak referensi hingga meme, yang mengungkapkan bahwa kelompok supremasi kulit putih melakukan radikalisasi dengan bersosialisasi secara daring. Di sisi lain, Jarvis memiliki keraguan bahwa permainan video memiliki peran langsung dalam serangan teror semacam ini.

"Tapi budaya pop yang dikonsumsi siapa pun, membentuk bagaimana mereka menjalani kehidupan sehari-hari," tambahnya.

Mengutip NZherald.co.nz, psikolog klinis memperingatkan masyarakat agar tidak menonton rekaman mengerikan tersebut. Hal ini bisa meninggalkan trauma, khususnya bagi warga Selandia Baru.

"Menyaksikannya menimbulkan trauma...Itu tidak akan membantu," kata Ian Lambie beberapa waktu yang lalu. Dia mengatakan, hal menyaksikan hal tersebut bisa menimbulkan rasa cemas, tidak ingin meninggalkan rumah, kehilangan minat beraktivitas, serta sulit tidur.

"Tunjukkan hanya kebaikan dan kasih sayang kepada orang-orang," kata Lambie menambahkan.

Comments