Masjid Kampus Jangan Disisipi Paham Radikal

Politik

Berita / Politik 68 Views comments

Wakil Presiden M Jusuf Kalla memberikan sambutan di Pondok Trendy Darussalam Gontor, Poso, Sulawesi Tengah. Foto: MI/M Taufan SP Bustan.
Jakarta: Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) meminta pembentukan kurikulum khotbah di masjid kampus terfokus untuk memotivasi mahasiswa memperoleh pemahaman agama yang baik. Hal ini juga dapat menghindari penyebaran paham radikal.

Menurut JK yang juga Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI), sedikitnya 100 kali umat Islam beribadah di masjid dalam setahun dan mendengarkan ceramah. Hal itu pun digunakan sebaik-baiknya.

"Ini dapat dilakukan dengan suatu cara, bagaimana masjid itu lebih memberikan motivasi sehingga bukan hanya tempat beribadah. Dengan cara bagaimana 100 waktu (salat wajib) itu dibuatkan kurikulumnya, suatu silabus yang baik," kata Wapres JK saat menghadiri acara Asosiasi Masjid Kampus Indonesia (AMKI) di Gedung D Kemenristek-Dikti, Jakarta, Sabtu, 11 November 2018.

Kurikulum tersebut, lanjut JK, tidak perlu menyeragamkan konten khotbah. Namun, ada tema tertentu setiap bulan sehingga mahasiswa tidak hanya mengikuti mata kuliah agama di kampus saja, tetapi juga mendapat pemahaman agama dengan baik.

Kurikulum untuk khotbah di masjid kampus pun dapat menekan penyebaran radikalisme di kalangan mahasiswa. Untuk itu, JK berharap pembentukan kurikulum khotbah dapat mulai diterapkan di masjid di lingkungan universitas dan perguruan tinggi.

Baca: Ancaman Komunisme dan Radikalisme Harus Diantisipasi

JK juga mengingatkan AMKI untuk memperhatikan kualitas sistem pengeras suara dan letak penempatan pengeras suara di masjid. Pasalnya, hal itu berpengaruh pada pemahaman khotbah oleh jemaah.

Di lokasi yang sama, Menristek-Dikti Mohamad Nasir meminta pengurus masjid kampus untuk berkoordinasi. Ia berharap kepengurusan masjid kampus dikembalikan ke pihak kampus agar tidak disisipi paham-paham radikal.

"Banyak kampus yang punya masjid yang tidak bisa dikendalikan, dikoordinasikan dengan baik. Akibatnya, di kampus jadi muncul kegiatan-kegiatan yang memunculkan radikalisme dan sebagainya," ujar Menteri Nasir.

Comments