Di Kediri Ada Kampung Kebangsaan, Kepala BPIP: Indahnya Indonesia

Nasional

Berita / Nasional 57 Views comments

JawaPos.com - Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila RI (BPIP) Prof Hariyono mengapresiasi Desa Pojok yang terletak di Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, Jawa Timur Indonesia. Betapa tidak di desa itu terdapat kampoeng kecil yang sarat dengan adat-adat kebangsaan.

Hariyono terkesimak ketika melakukan kunjungan kerja ke desa itu pada Minggu, 10 Maret lalu. Di Kampoeng itu terdapat Situs Ndalem yang kerap mengelar upacara dan pagelaran seni budaya, yang dihadiri berbagai tokoh lintas agama guna menguatkan karakter nasionalis kebangsaan.

Kata dia, gotong royong antar umat dan pemuka agama berjalan baik disetiap penyelenggaraan acara adat kebangsaaan. Keberadaan Situs Ndalem Pojok, ternyata diketahui Bangunan Cagar Budaya, lantaran rumah masa kecil Presiden Soekarno.

"Sejarah masa kecil Sang Proklamator Bung Karno yang merupakan Bapak Bangsa, menjadi penyemangat berlangsungnya Kampoeng Adat Kebangsaan ini. Potensi Kampoeng Kebangsaan ini layak untuk dikembangkan agar keberadaanya tetap lestari sepanjang masa untuk menjadi inspirasi bagi generasi penerus," kata Hariyono di Jakarta, Jumat (15/three).

Ketika kita memasuki situs Cagar Budaya Rumah Masa Kecil Presiden Soekarno, terdapat sejumlah replika atau simbol-simbol kebangsaan.
Di antaranya Monumen Garuda Pancasila, Replika Kitab Sutasoma “Bhinneka Tungal Ika”, Kantor Persaudaraan Umat Beragama, Kitab-Kitab Suci Lima Agama, Lukisan Borobudur, Candi Prambanan, Gereja Betlehem, hingga Masjid Istiqlal.

"Berbagai kegiatan keagamaan, pagelaran budaya dan berbagai kegiatan pada hari-hari besar serta hari nasional sering dilakukan, seperti doa bersama, upacara kemerdekaan, berbagi santunan, dan lain-lain," papar dia.

Selain itu, kegiatan rutin bulanan di kampung adat kebangsaan juga dilakukan seperti mocopat dan doa bersama hari lahir Bung Karno setiap Kamis Pon. Serta doa bersama memperingati meninggalnya Bung Karno setiap hari Sabtu Legi.

"Selain itu kegiatan rutin mingguan, seperti tahlil mendoakan Bung Karno beserta semua pahlawan setiap malam Jum’at, Karatiwan uri-uri budaya Jawa malam Jum’at, belajar menari, gemelan, mocopat, menulis aksara Jawa, sekolah kebangsaan non formal setiap sore," ungkapnya.

Beberapa pemuka agama dan tokoh masyarakat berharap kedepan situs ini tidak hanya berhenti pada kegiatan peringatan atau upacara hari-hari besar saja. Namun semua peristiwa penting, peristiwa besar nasional lainnya.

"Misalnya Hari Lahirnya Lambang Negara, Hari Lahirnya Lagu Kebangsaan Indonesia Raya Hari Kembalinya Dekrit UUD 1945, Hari Santri dan lainnya," pungkas Hariyono.

Editor           : Imam Solehudin
Reporter      : Intan Piliang

Comments