Di Balik Kostum Lucu Badut Jalanan, Ada Kehidupan Pahit dan Menguras Peluh

Aneh Tapi Nyata

Entertainment / Aneh Tapi Nyata 15 Views comments

Kalau ditanya pernah bertemu dengan badut, hampir semua dari kita pernah menjumpainya. Jika ditelisik secara sejarah, badut sudah ada dari zaman Yunani dan Romawi kuno. Tugas mereka ya menghibur para bangsawan kala itu. Mereka melakukan kegiatan pantomim, serta berlaku konyol di jalanan. Bisa dikatakan badut adalah penghibur jalanan yang paling tua usianya.

Sosok badut memang didesain jenaka, berkostum dan sepatu gombrong, serta riasan wajah yang lucu jika dilihat. Sekarang, kostum-kostum tersebut terus mengalami perubahan bukan. Ada bahkan badut yang memakai baju instan, seperti Winnie The Pooh, Masha, Spongebob, yang biasanya kita temukan di lampu merah jalanan. Ternyata, walau terlihat mudah profesi ini tak selamanya bikin bahagia loh sahabat. Dari itu, yuk, kita simak cerita-cerita pahit di balik pemilik kostum lucu ini.

Menahan beratnya kostum

Badut jalanan [Sumber gambar]Cerita kali ini datang dari seorang badut bernama Ilham. Ia menceritakan bahwa menjadi sosok di dalam kostum badut adalah hal yang melelahkan, sekalipun untuk badut profesional. Ya, bagaimana tidak, kostum yang dipakai kadang beratnya bisa mencapai four kilo lebih. Sedangkan sosok manusia di dalamnya harus bergerak, menari, mau diajak foto dengan berbagai gaya selama berjam-jam. Dengan membawa kostum yang berat dan kaku, dua jam adalah waktu yang cukup lama. Ilham menceritakan bagaimana ia mandi keringat dalam kostum tersebut. Hal ini bertambah berat jika ternyata kalian menemukan badut, dengan kostum lusuh yang biasanya berada di lampu merah. Pastinya terik matahari juga membuat tambah gerah.

Rela mau dibayar berapapun

Rela dibayar berapapun [Sumber gambar]Untuk badut jalanan, yang pindah dari satu tempat ke tempat lain, tentu tak ada tarif resmi seperti yang biasa diterima oleh badut pesta. Mereka menerima berapapun orang hendak memberi, walau hanya receh 200 rupiah, tetep dimasukkan ke dalam saku. Ya, lihat saja badut-badut yang biasanya ada di Automotive Free Day, sambal jogged-joged mereka menyiapkan kardus dengan tulisan ‘bayar secara sukarela’. Dari pengakuan mereka yang menjalani profesi ini, mereka hanya mendapat sekitar 200-250 ribu perhari. Itu pun harus berbagi 50:50 dengan pemilik kostum (karena kebanyakan badut meminjam kostum dari orang lain).

Peluh dan pahitnya di balik aktivitas menghibur

Jika kamu pernah menonton klip Manusia Bodoh dari Ada Band, maka kamu akan menemukan badut dalam klip tersebut -yang menyebut dirinya manusia bodoh-. Bodoh ini bisa diartikan dalam banyak artian ya, Sahabat. Pesan yang ingin disampaikan adalah menggeluti profesi ini adalah pilihan. Karena kamu dituntut untuk tetap skilled, menghibur dan membuat orang lain tertawa, meskipun kamu sendiri memiliki banyak masalah. Jadi, di balik kostum badut yang lucu, mungkin saja ia adalah sosok yang juga butuh hiburan.

Tak semua orang menyukai badut, ada yang malah takut

Badut pesta [Sumber gambar]Dilansir Vice.com, meski lucu dan identik dengan panggung hiburan, nyatanya enggak semua orang menyukai sosok badut. Hal tersebut diungkap oleh Beben yang berprofesi sebagai badut pesta. Ia mengatakan kalau tak hanya anak kecil yang kadang suka takut dengan badut, orang tua, ibu hamil pun kadang mengalami hal serupa. Hal tersebut mungkin karena ada badut yang wajahnya seram karena make up yang mereka pakai. Namun, ketakutan akan badut mungkin bawaan dari lahir, atau bisa jadi pengalaman pahit yang pernah mereka alami.

BACA JUGA: Kisah Mantan Badut Sulap Lulusan SMP yang Sukses Menjadi Miliarder Besar di Indonesia

Menjadi badut sama beratnya seperti profesi lain. Menjadi badut juga harus skilled, mengubah anak-anak yang tadinya takut menjadi berani dan mau diajak bermain Bersama. Ketika kalian melihat badut yang ada di jalanan, jangan buru-buru menghujat. Jika tidak mau memberi maka tolaklah dengan cara baik-baik. Setidaknya mereka sudah mau rela berpanas-panasan dan memakai kostum yang berat demi mencari nafkah halal.

Comments