CVR Ditemukan, Misteri Jatuhnya Lion Air Akan Terpecah?

Nasional

Berita / Nasional 33 Views comments

Penemuan CVR ini diharapkan dapat mengungkap misteri jatuhnya pesawat yang yang menewaskan 189 orang itu. Lantas seberapa penting CVR ini dalam mengungkap misteri jatuhnya pesawat rute Jakarta-Pangkal Pinang itu?

Untuk mengungkap penyebab setiap tragedi jatuhnya pesawat, fokus utama pencarian umumnya pada kotak hitam atau black field.

Black field ini penting karena di dalamnya terdapat perekam knowledge penerbangan atau flight knowledge recorder (FDR) dan perekam suara kokpit atau cockpit voice recorder (CVR) dalam pesawat tersebut.

Personil TNI AL menunjukkan CVR Lion Air JT 610 yang jatuh di perairan Karawang Oktober 2018 lalu di laut lepas pantai Karawang (14/1). Para penyelam Angkatan Laut telah nerhasil menemukan CVR Lion Air PK-LQP. (AFP Photo/Azwar Ipank)

Fungsi dari alat ini adalah untuk merekam pembicaraan antara pilot dan pemandu lalu lintas udara atau air visitors management (ATC) bandara dan mengetahui tekanan udara serta kondisi cuaca selama penerbangan.

Kotak hitam itu sejatinya tak berwarna hitam, melainkan berwarna oranye. Investigator KNKT Ony Soeryo Wibowo‎ mengatakan kotak hitam itu biasanya ditempatkan pada bagian ekor pesawat.

Warna oranye sengaja dipilih untuk membedakan dengan semua komponen elektronik ‎di pesawat.

Semua komponen elektronik di pesawat disebut black field dan berwarna hitam. Nah, untuk membedakan mana FDR (flight Knowledge Recorder) dan CVR (Cockpit Voice Recorder), maka kotak itu berwarna oranye," kata Ony yang ditulis pada Kamis (1/11/2018).

Ony mengatakan, dunia penerbangan internasional baru menyepakati FDR dan CVR berwarna oranye sekitar tahun 1980-an.

Cockpit Voice Recorder (CVR) Lion Air JT 610 yang jatuh di perairan Karawang Oktober 2018 lalu diperlihatkan oleh Personil TNI AL di laut lepas pantai Karawang (14/1). (AFP Photo/Azwar Ipank)

Sebelumnya, semua komponen elektronik pada pesawat, termasuk FDR dan CVR, memang berwarna hitam. Tujuannya untuk menyerap hawa panas dan mengeluarkannya ke luar pesawat.

FDR dan CVR disebut juga sebagai kotak hitam lantaran punya filosofi tersendiri. Bahwa hitam identik dengan gelap dan diasosiasikan pada misteri.‎ Itu sebabnya, FDR dan CVR disebut sebagai kotak hitam karena merepresentasikan misteri di balik kecelakaan sebuah pesawat.

"Disebut hitam, karena hitam merepresentasikan misteri. Dia merekam misteri dari sebuah peristiwa kecelakaan pesawat," kata Ony.

Kotak hitam sejak 1980-an diwarnai oranye juga karena alasan agar mudah ditemukan, selain juga supaya berbeda dengan kotak hitam lainnya yang ada di pesawat.

Mengingat, kecelakaan sebuah pesawat tak dapat ditentukan terjadi di mana. Bisa di laut atau bisa juga di daratan. Sehingga, dengan warna khasnya itu, FDR dan CVR dapat "menyala" di dalam gelap.

Lebih jauh Ony menjelaskan bahwa pesawat umumnya juga memiliki lebih dari dua alat perekam. Namun, semua aktivitas perekaman terpusat pada FDR dan CVR. Kedua perekam itu diletakkan di bagian ekor juga karena maksud tertentu.

"Ditaruh di ekor itu untuk menghindarkan kerusakan parah saat terjadi benturan. Kalau di ekor, kan, kemungkinan terkena benturannya paling kecil," ujar Ony.

Bagi Ony dan rekan-rekannya di KNKT menyingkap tabir misteri si kotak hitam harus dilakukan. Meski tentunya, menyimpulkan hasil akhir dari investigasi kecelakaan pesawat bukan perkara mudah dan perlu waktu yang tak sebentar.

"Membaca black field, cepat atau lamanya itu tergantung kerusakan," kata investigator KNKT, Nurcahyo Utomo.

Menurut dia, jika kotak hitam itu rusak, misal terbakar kabel-kabel di dalamnya,‎ maka KNKT harus membawa kotak tersebut ke negara pembuat.

Di sana, kabel-kabel atau komponen listrik yang sudah rusak akan diganti dengan yang baru. Baru setelah itu, rekaman pada FDR dan CVR bisa diunduh.

FDR dan CVR sendiri memiliki kemampuan rekaman yang terbatas dan overwrite atau menimpa rekaman sebelumnya. Maksudnya, FDR dan CVR akan merekam segala aktivitas dan pembicaraan selama 30 menit.

Kemudian rekaman 30 menit berikutnya akan menimpa dan otomatis menghapus rekaman 30 menit sebelumnya.

"Jadi rekaman menit ke-31 akan menghapus rekaman menit ke-1, menit ke-32 akan menggantikan menit ke-2 begitu seterusnya sampai menit ke-60 menimpa menit ke-30. Dan itu berlaku terus sampai black field itu berhenti merekam karena terputusnya aliran listrik," ujar Nurcahyo.

Comments