8 Orang Meninggal Usai Demo Rusuh, Chili Berlakukan Status Darurat di 6 Kota

  • Whatsapp

Dailymail.co.id, Chili – Delapan orang dilaporkan tewas akibat kekerasan dan penjarahan yang terus berlanjut di Chili pada Minggu 20 Oktober atau Senin (21/10/2019) waktu Indonesia. Toko-toko dan tempat lain turut dibakar terlepas dari pemberlakuan keadaan darurat pada setidaknya enam kota di Chili.

Kekerasn bermula dari demonstrasi kenaikan tarif kerta bawah tanah dua pekan lalu, yang kemudian dibatalkan Presiden Chili, Sebastián Piñera pada Sabtu malam.

Read More

Namun, langkahnya gagal memadamkan gelombang demo yang terus mengguncang negara tersebut hingga Minggu, seperti dilansir nytimes.com.

Pejabat setempat menuturkan, tiga orang tewas dalam kebakaran di pusat-pusat perbelanjaan yang dijarah. Sementara, lima orang lain ditemukan tewas di sebuah gudang yang dibakar.

Kerusuhan saat ini merupakan yang terburuk melanda Chili dalam beberapa dekade. Perusakan kereta halte kereta bawah tanah dan pembakaran bus-bus terjadi akibat kerusuhan dari kenaikan tarif subway.

Dilaporkan pejabat setempat mempertimbangkan perluasan keadaan darurat di lebih banyak kota. Terutama, di bagian utara dan selatan Chili. Status keadaan darurat adalah kali pertama sejak Chili kembali ke demokrasi 1990.

Presiden Piñera langsung bertemu dengan para pemimpin sistem legislatif dan kehakiman. Ia berjanji “untuk mengurangi ketidaksetaraan yang berlebihan, pelanggaran ketidakadilan, yang bertahan dalam masyarakat kita.”

Protes itu menyebabkan setidaknya dua maskapai penerbangan membatalkan atau menjadwal ulang penerbangan ke Santiago. Bahkan, terjadi antrean panjang terbentuk di pompa bensin sebelum dimulainya minggu kerja.

Menteri Dalam Negeri Chili, Andrés Chadwick mengatakan 62 petugas polisi dan 11 warga sipil terluka dalam kekerasan terbaru. Sementara itu, hampir 1.500 orang ditangkap aparat kepolisian.

Terdapat pemandangan tank-tank serta pasukan militer yang berkeliaran di jalan-jalan Chili.

Pernyataan Presiden

Sebastian Pinera dan istrinya Cecilia Morel saat merayakan kemenangan di Santiago, Chile, pada 17 Desember 2017. (AP Photo/Luis Hidalgo)

Usai rapat/pertemuan darurat Minggu malam, Presiden Piñera membela keputusannya untuk menerapkan keadaan darurat. Serta, mengirim pasukan-pasukan ke jalan, kali pertama sejak kediktatoran Augusto Pinochet tahun 1974-1990.

Presiden Piñera turut menyatakan sikap perihal demo yang berlangsung di negaranya.

“Demokrasi tidak hanya memiliki hak. Ia memiliki kewajiban untuk mempertahankan diri dengan menggunakan semua instrumen yang disediakan demokrasi itu sendiri, dan aturan hukum untuk memerangi mereka yang ingin menghancurkannya,” kata Presiden Sebastián Piñera.

“Kami berperang melawan musuh yang kuat, yang bersedia menggunakan kekerasan tanpa batas,” tambahnya, seperti dilansir aljazeera.com.

Sementara itu, akibat demo hampir semua angkutan umum lumpuh di Santiago. Banyak toko tutup dan berbagai penerbangan dibatalkan di bandara internasional.

Ribuan orang pun terdampar dan tidak dapat pergi karena diberlakukannya jam malam.

Pejabat Tinggi Pertahanan Chili, Jenderal Javier Iturriaga mengatakan jam malam menjelang fajar mulai berlaku dari jam 7.00 malam waktu Chili dan orang harus “tenang dengan semua berada di rumah mereka.”

Iturriaga ditunjuk sebagai kepala pertahanan nasional oleh Presiden Piñera pada Jumat. Hal itu saat presiden menyatakan keadaan darurat atas kerusuhan yang terjadi.

Dampak Kerusuhan Chili

Chili, negara dengan kesenjangan ekonomi terparah di dunia (Foto: the-dissentient.com)

Presiden Piñera turut mengimbau orang-orang yang turun ke jalan. Ia mengatakan “ada alasan bagus untuk melakukannya “tetapi meminta mereka “untuk berdemonstrasi secara damai.”

Ia juga mengatakan “tidak ada yang memiliki hak untuk bertindak dengan kekerasan kriminal brutal”.

Pendiri situs web berita independen Chile Today, Boris Van Der Spek mengatakan intervensi presiden mungkin terlambat.

“Protes lebih dari sekedar kenaikan ongkos. Ini tentang biaya hidup dan tingkat ketidaksetaraan di negara ini. Ada begitu banyak ketidakpuasan di Chili. Ini selalu akan terjadi dengan satu atau lain cara,” kata Boris Van Der Spek.

Sementara itu, Chili memiliki pendapatan per kapita tertinggi di Amerika Latin yaitu dengan $ 20.000 atau sekitar 282 juta rupiah lebih. Kemudian, pertumbuhan ekonomi tahun ini diharapkan sebesar 2,5 persen dan inflasi hanya dua persen.

Namun, ada frustrasi yang meluas dengan kebijakan ekonomi yang telah memprivatisasi semua perawatan kesehatan dan pendidikan saat pensiun. Serta, meningkatnya biaya layanan dasar telah memperburuk ketimpangan sosial yang ada.

Dikutip dari aljazeera.com, para pengunjuk rasa membakar beberapa stasiun kereta bawah tanah dan merusak puluhan lainnya, dan beberapa membakar sebuah perusahaan energi.

Kerusuhan dimulai sebagai protes menghindari kenaikan tarif terhadap kenaikan harga tiket kereta bawah tanah, yang meningkat. Peningkatan harga dari 800 peso menjadi 830 peso (hampir 15.900 rupiah lebih menjadi 16.500 rupiah lebih) untuk perjalanan waktu puncak, menyusul kenaikan 20-peso pada Januari tahun ini.

Sebelumnya, pemerintah baru-baru ini menaikkan tarif kereta bawah tanah dari sekitar 1,12 dolar (15.800 rupiah lebih) menjadi 1,16 dolar (16.300 rupiah lebih) akibat kenaikan harga bahan bakar.

Sementara itu, kepala sistem kereta bawah tanah, Louis De Grange mengatakan vandalisme dari unjuk rasa menyebabkan kerusakan ratusan juta dolar.

Sebagai dampak, sekitar 2,4 juta orang kemungkinan akan mengalami kesulitan untuk pergi bekerja atau sekolah pada hari Senin 21 Oktober 2019.

Louis De Grange juga mengatakan para pekerja akan berusaha untuk membuat setidaknya satu jalur berjalan pada hari Senin, seperti dilansiri, time.com.

Namun, ia mengatakan mungkin perlu berminggu-minggu atau berbulan-bulan untuk mengembalikan empat layanan lainnya. Louis menambahkan 85 stasiun dan lebih dari tiga perempat sistem telah rusak parah.

Reporter: Hugo Dimas

Dailymail.co.id | Daily Mail Online

Related posts

Leave a Reply