Saham BUMN Konstruksi Berpeluang Menguat pada 2018

Koran Online

Nasional / Koran Online 15 Views comments

Sebelumnya harga saham emiten Badan Usaha Milik Negara (BUMN) konstruksi atau BUMN konstruksi cenderung tertekan sepanjang 2017. Meski pemerintah genjot pembangunan infrastruktur yang berdampak ke kinerja BUMN konstruksi, namun pelaku pasar khawatir dengan pendanaan proyek itu.

Berdasarkan knowledge RTI, seperti ditulis Jumat 8 Desember 2017, harga saham BUMN konstruksi sempat kompak menguat pada perdagangan saham Kamis 7 Desember 2017. Saham PT PP Tbk (PTPP) naik 2,08 persen, saham PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) menguat 2,81 persen, saham PT Waskita Karya Tbk (WSKT) mendaki four,55 persen, saham PT Adhi Karya Tbk (ADHI) melonjak 2,02 persen.

Demikian juga anak usaha BUMN konstruksi tersebut antara lain saham PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP) naik 3,28 persen, saham PT PP Presisi Tbk (PPRE) naik 1,1 persen dan saham PT Wijaya Karya Beton Tbk menguat 1,9 persen.

Analis PT OSO Securities Riska Afriani menuturkan, penguatan saham emiten BUMN konstruksi masih wajar karena merupakan rotasi sektoral. Apalagi saham emiten BUMN konstruksi sudah turun tajam. Sentimen positif lainnya juga berasal dari pemerintah keluarkan international bond terkait pendanaan infrastruktur yang cukup besar.

"Ini technical rebound. Akan tetapi ada potensi penurunan lanjutan," ujar Riska saat dihubungi Liputan6.com.

Bila melihat pergerakan saham emiten BUMN konstruksi selama 2017, harga sahamnya cenderung tertekan. Harga saham PTPP merosot 35,70 persen, saham WIKA tergelincir 30,30 persen, saham WSKT turun 23,33 persen, saham ADHI tergelincir 14,90 persen.

Ini juga diikuti dengan penurunan harga saham anak usaha BUMN konstruksi lainnya yaitu saham WSBP merosot 31,89 persen, saham WTON tergelincir 36,97 persen dan saham PPRE turun 14,42 persen.

Riska menuturkan, harga saham BUMN konstruksi tertekan lantaran kekhawatiran pelaku pasar terhadap pendanaan infrastruktur. Investor khawatir bila proyek infrastruktur yang dikerjakan BUMN konstruksi itu tidak dibiayai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Riska mencontohkan arus kas PT Waskita Karya Tbk (WSKT). Perseroan mencatatkan arus kas bersih digunakan untuk aktivitas operasi minus Rp 5,08 triliun hingga September 2017.

Kemudian PT Adhi Karya Tbk (ADHI) mencatatkan arus kas bersih untuk aktivitas operasi minus Rp 3,02 triliun, PT PP Tbk bukukan arus kas bersih minus Rp 1,52 triliun, dan PT Wijaya Karya Tbk sebesar Rp 2,69 triliun.

"Adanya kekhawatiran investor terhadap cashflow emiten konstruksi. Tidak ada masalah essential, ujar dia.

Comments