Produktivitas Sawit Rakyat Perlu Dipacu

Berita Hari Ini

Koran Online / Berita Hari Ini 29 Views comments

Metrotvnews.com, Sukoharjo: Luas areal perkebunan sawit rakyat telah mengalami peningkatan signifikan, dari 6.175 hektare (ha) pada 1980 menjadi four,76 juta ha atau 41 persen dari complete luasan 11,67 juta ha pada 2016.

Namun, peningkatan itu belum berbanding lurus dengan produktivitas. Produksi sawit rakyat baru mencapai 35 persen, tertinggal jauh bila dibandingkan dengan perusahaan perkebunan sawit swasta yang mencapai 57 persen dengan luas areal yang hampir sama.

Hal itu mengemuka dalam pertemuan Teknis Kelapa Sawit (PTKS) 2017 yang digelar di Solobaru, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, hari ini.  Pertemuan tahunan itu merupakan ajang berbagi informasi, inovasi, dan teknologi dari lembaga riset, stakeholder, dan petani.

Direktur Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) Periode 2015-2017, Bayu Krisnamurthi yang menjadi salah satu pembicara menyatakan, hole produksi perkebunan sawit rakyat itu masih terlalu besar.

Idealnya satu ha bisa menghasilkan 25 ton TBS, dengan tingkat rendemen 25 persen. Dengan begitu setiap satu hektare tanaman bisa menghasilkan 5-6 ton minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO).

"Saat ini baru 2,5 ton-Three ton per ha," katanya dikutip dari Media Indonesia, Selasa 18 Juli 2017.

Peningkatan produktivitas sawit rakyat merupakan tantangan yang harus segera diselesaikan. Apalagi di masa mendatang permintaan minyak nabati akan terus meningkat, dan Indonesia diperkirakan harus mampu memasok 30 juta ton hingga 2045-2050.

Indonesia harus melakukan berbagai macam cara untuk memenuhi itu. Salah satu cara yang paling mendasar ialah dengan meningkatkan produktivitas. Ruang peningkatan produktivitas paling utama datang dari  perkebunan sawit rakyat.

Indonesia sebagai negara penghasil dan pengekspor minyak sawit terbesar di dunia harus mampu mempertahankan daya saing di pasar minyak nabati international. Selain itu indonesia juga wajib mempertahankan keberlanjutan manfaat yang diberikan sawit kepada Indonesia dan dunia.

"Melalu pertemuan teknis ini diharapkan menjadi ajang sharing temuan dan inovasi yang bisa berkontribusi pada peningkatan produktivitas perkebunan sawit rakyat," kata Bayu.

Mantan Menteri Pertanian Bungaran Saragih sependapat dengan Bayu. Menurutnya, peningkatan daya saing merupakan kunci untuk memenangkan persaingan yang makin ketat dimasa mendatang.

Selain meningkatkan produktivitas, hal yang juga harus dilakukan ialah meningkatkan daya saing petani. Salah satunya dengan mendorong para petani untuk menyatukan diri dalam sebuah organisasi. Tanpa organisasi yang baik sulit bagi petani untuk meningkatkan daya saing dan produktivitas.

"Maka enter yang dibutuhkan adalah bagaimana mengorganisir petani, dan kemudian mendorong mereka untuk bekerja sama dari hulu sampai hilir. Hilangkan pertentangan, ciptakan seuatu yang kondusif untuk kepentingan nasional," tegasnya.

Selain Bungaran Saragih dan Bayu Krisnamurthi, pembicara lain yang hadir ialah Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Lingkungan Mukti Sardjono, dan Ketua Dewan Pengawas BPDPKS Rusman Heriawan.

(SAW)

Comments