HEADLINE: Merajut Harmoni, 18 Tahun Imlek Bebas Dirayakan di Indonesia

Koran Online

Nasional / Koran Online 37 Views comments

Liputan6.com, Jakarta - Kelenteng Hok Lay Kiong di Jalan Kenari I, Margahayu, Kota Bekasi, Jawa Barat semarak jelang perayaan Imlek atau Tahun Baru China 2565 yang jatuh pada Jumat 16 Februari 2018.

Warga keturunan Tionghoa terlihat sibuk, hilir mudik dari satu patung dewa ke patung lainnya. Niangao atau kue keranjang yang legit dipersembahkan. Lilin-lilin besar dan ornamen dipasang, semuanya merah -- warna yang mewakili kegembiraan sekaligus pengharapan bahwa kesedihan dan kegelapan akan sirna berganti kebahagian.

Semarak Imlek tak hanya terlihat di kelenteng-kelenteng. Perayaan budaya itu dirayakan warga keturunan Tionghoa dari berbagai latar belakang dan agama. 

Imlek menjadi momentum ketika keluarga besar berkumpul dalam suka cita, makan bersama, dan tentu saja bagi-bagi angpao. Pertunjukan liong dan barongsai, pesta kembang api, serta bunyi petasan yang semarak membuat masyarakat awam ikut larut dalam kegembiraan.

Namun, bukan selamanya perayaan tahun baru China di Indonesia berlangsung meriah. 

Baru pada tahun 2000, di bawah pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur warga keturunan Tionghoa bebas merayakan Imlek. Sebelumnya, selama 31 tahun, tahun baru China dirayakan secara diam-diam, di ruangan tertutup, tanpa hingar bingar. 

Peneliti Budaya China dari Universitas Indonesia, Agni Malagina mengatakan, sejarah mencatat, perayaan Imlek di Tanah Air semarak dan dilakukan di luar ruangan, bahkan sejak Indonesia masih bernama Hindia Belanda. Kemeriahan tersebut terekam dalam surat kabar yang beredar pada masa kolonial.

"Sejak period Belanda, sekitar tahun 1901, surat kabar Melayu Tionghoa yang terbit seperti Perniagaan, Warna-Warni, menggambarkan kota-kota besar merayakan Imlek," kata dia saat berbincang dengan Liputan6.com, Jakarta, Kamis sore (15/2/2018).

Seiring perkembangan politik di Indonesia, dari kolonial ke republik, gegap gempita perayaan Imlek yang tercatat dalam surat kabar pun menurun intensitasnya. Tapi, bukan lantaran diskriminasi. Namun terkait orientasi yang variatif dari masyarakat Tionghoa di Nusantara kala itu

"Ada tiga kategorinya. Mereka berorientasi kebaratan-baratan, orientasi ke China Daratan yaitu Tiongkok, dan orientasi ke Republik atau Nusantara. Ini yang mempengaruhi kegiatan Imlek saat itu," jelas Agni Malagina.

Pindah ke zaman Orde Baru, ada peraturan yang melarang perayaan Imlek berlangsung di tempat umum. Regulasi itu tertuang dalam Inpres Nomor 14 Tahun 1967 tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat China.

Larangan ini tak lepas dari sengkarut politik di Tanah Air, setelah peristiwa G30S. Orde Baru khawatir, keturunan Tionghoa akan menyebarkan paham komunis di Indonesia. Pada masa Sukarno, Indonesia berkawan karib dengan Beijing, sementara pada masa Orde Baru hubungan itu diputus.

Pada tahun 1966, Ketua Badan Komunikasi Penghayatan Kesatuan Bangsa, Kristoforus Sindhunata alias Ong Tjong Hay memilih istilah China dari pada Tionghoa. Sindhunata juga mengusulkan pelarangan complete terhadap perayaan kebudayaan Tionghoa.

Namun, Soeharto kala itu menilai usulan Sindhunata itu berlebihan. Penguasa Orde Baru itu tetap mengizinkan perayaan kebudayaan Tionghoa, namun secara tertutup.

"Sebenarnya tidak 100% tidak boleh. Perayaan tetap boleh tapi tidak boleh hingar bingar di publik. Perayaan Imlek dilakukan secara privat, di rumah bersama keluarga maupun di kelenteng," ujar Agni.

Comments