Gubernur BI: Utang Luar Negeri terhadap GDP Masih Aman

Berita Hari Ini

Koran Online / Berita Hari Ini 19 Views comments

Metrotvnews.com, Jakarta: Gubernur Financial institution Indonesia (BI) Agus Martowardojo menyebut kondisi utang luar negeri (ULN) Indonesia masih dalam batas aman.

"Secara rasio menunjukkan bahwa complete utang terhadap GDP masih dalam kondisi yang aman," ungkap Agus, usai pemberian penghargaan Financial institution Indonesia 2017, di Lodge Bidakara, Jakarta, Selasa 18 Juli 2017.

Dia mengakui, utang luar negeri dari pemerintah ada peningkatan. Di sisi lain, utang luar negeri swasta justru peningkatannya lebih kecil.

Menurut dia, dalam Undang-Undang (UU) Keuangan diharapkan utang Indonesia terhadap GDP tidak lebih dari 60 persen. Saat ini, tambah dia, rasio utang Indonesia ada di kisaran 28-29 persen.

"Jadi kita pikir harus mengupayakan kalau ada penarikan utang, itu dengan jangka waktu yang baik dan manajemen yang baik," tambah Agus.

Oleh karena itu, BI memberikan penghargaan kepada korporasi yang mengelola utang luar negerinya dengan baik. Hal ini diharapkan dapat menjadi pemacu perusahaan-perusahaan yang belum mengelola utang luar negeri dengan baik, agar lebih baik.

Baca: Utang Luar Negeri Indonesia Mei 2017 Naik jadi USD333,6 Miliar

Financial institution Indonesia (BI) merilis Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada Mei 2017 tercatat USD333,6 miliar atau tumbuh 5,5 persen (yoy). Berdasarkan kelompok peminjam, pertumbuhan tahunan ULN sektor publik meningkat, sedangkan ULN sektor swasta menurun.

"Posisi ULN sektor publik pada Mei 2017 tercatat USD168,four miliar sekira 50,5 persen dari complete ULN atau tumbuh 11,eight persen (yoy), lebih tinggi dari 9,2 persen (yoy) pada bulan sebelumnya," kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Senin 17 Juli 2017.

Sementara itu, ULN sektor swasta tercatat USD165,2 miliar sekira 49,5 persen dari complete ULN) atau turun zero,1 persen (yoy), lebih kecil dibandingkan dengan penurunan pada April 2017 yang sebesar three,2 persen (yoy). Menurunnya ULN swasta tersebut disebabkan oleh ULN lembaga keuangan (Financial institution maupun Lembaga Keuangan Bukan Financial institution/LKBB) sementara ULN swasta non keuangan (Perusahaan Bukan Lembaga Keuangan/PBLK) meningkat.

Berdasarkan jangka waktu asal, baik ULN jangka panjang maupun ULN jangka pendek mengalami peningkatan pertumbuhan. ULN berjangka panjang tumbuh four,four persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan April 2017 yang sebesar 1,four persen (yoy), sedangkan ULN berjangka pendek tumbuh 13,6 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan April 2017 sebesar 12,four persen (yoy).

(AHL)

Comments