Cara Sementara Ditjen PAS Cegah Radikalisasi di Lapas

Berita Hari Ini

Koran Online / Berita Hari Ini 68 Views comments

Metrotvnews.com, Jakarta: Radikalisasi di dalam lembaga pemasyarakatan bukan isapan jempol. Sejumlah teroris yang ditangkap diketahui bekas narapidana umun yang terpapar ideologi radikal di dalam bui.

Direktur Bidang Pembinaan Narapidana Latihan Kerja dan Produksi Ditjen Pemasyarakatan, Kementian Hukum dan HAM, Ilham Djaya, mengklaim telah berupaya mencegah pola penyebaran paham radikal di lapas. Salah satunya, dengan cara menempatkan napi teroris di blok khusus.

"Agar meminimalisasi komunikasi dengan napi yang lain," kata Ilham kepada Metrotvnews.com, Selasa 18 Juli 2017.

Namun, ia mengakui, pola itu bukan satu-satunya jalan ampuh buat mencegah radikalisasi. Sebab, napi teroris dan napi umum masih bisa berinteraksi di lingkungan lapas.

"Mereka kadang bertemu pada saat jam besuk, sedang di masjid, atau tempat rekreasi di dalam lapas. Ngobrolnya di situ," kata dia.

Makanya, menurut Ilham, saat ini penanganan napi teroris di lapas terus menjadi bahasan. Pemerintah punya dua opsi, tetap menyebar napi atau menempatkannya di lapas khusus.

"Karena masing-masing punya risiko. Lapas khusus juga belum remaining," ujar dia.

Yang jelas, kata dia, kalau lapas khusus terealisasi, tempat itu bakal diperuntukkan bagi napi teroris kategori berisiko tinggi (excessive danger) atau berkategori ideolog dan militan. "Kita akan mengetahui kategorinya setelah melalui proses evaluation."

Untuk pembinaan para napi teroris, kata Ilham, pihak lapas sudah membekali mereka dengan sejumlah keterampilan. Agar saat bebas, mereka bisa memulai hidup baru.

Ia membeberkan, saat ini ada 240 napi teroris yang tersebar di lapas seluruh provinsi. Deradikalisasi terus dilakukan bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

Baca: Terduga Teroris di Surabaya Terlibat Jaringan Shibgho

Perekrutan teroris dalam lapas bukan isapan jempol. Penggerebekan teroris di Tangerang Selatan, Rabu 21 Desember 2016, misalnya. Satu dari tiga terduga teroris yang tewas pascabaku tembak dengan Densus 88 adalah mantan napi kriminal umum.

Ia adalah Omen, bekas napi kasus pembunuhan yang direkrut dari balik jeruji penjara. Omen dicuci otak oleh Achmad Taufiq alias Ovi, perencana peledakan kantor Kedutaan Besar Myanmar di Jakarta pada 2013.

Pada Juni 2016, Densus 88 juga menangkap tiga terduga teroris jaringan Shibgho, yaitu Priyo Hadi Purnomo, Jefri Rahmawan, dan Feri Novendi. Priyo dan Jefri diyakini terpengaruh radikalisme ketika mendekam di lapas Porong, Sidoarjo. Kala itu keduanya satu sel dengan terpidana teroris Shibgho dengan pimpinan Maulana Yusuf.

(UWA)

Comments